Beberapa saat kemudian, di bawah bayangan pohon besar di tepi sungai, Lynx berdiri dengan kepala suku Yaksa, Uban, dan tetua Ayunga, yang baru saja diselamatkan dari cengkeraman perampok. Warga Yaksa berkumpul di sekitar mereka, banyak dari mereka masih mengenakan perban dan tampak kelelahan. Namun, sorot mata mereka penuh harapan ketika melihat Lynx yang berdiri dengan tegas. Sementara para tahanan lainnya yang di bebaskan, sedang beristirahat di salah satu bangunan suku Yaksa.
Uban, kepala suku Yaksa, melangkah maju, wajahnya penuh rasa hormat. “Lynx, kau telah menyelamatkan kami dari kehancuran total. Aku, Ayunga, dan seluruh suku Yaksa berhutang nyawa padamu.”
“Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan,” jawab Lynx dengan nada rendah namun penuh keyakinan. “Tapi ini belum berakhir.”
Uban mengernyit, pandangannya penuh rasa ingin tahu. “Apa maksudmu?”
“Para perampok tahu di mana kalian tinggal,” ujar Lynx tegas. “Kalian tidak bisa bertahan di sini lebih lama. Tempat ini sudah tidak aman. Aku yakin Kronar akan segera mengumpulkan pasukannya untuk menyerang kalian lagi. Dan kali ini, mereka tidak akan memberi kalian kesempatan.”
Ayunga mengepalkan tangannya, sorot matanya marah. “Mereka benar-benar tidak akan berhenti. Setelah semua yang telah mereka lakukan, mereka masih ingin menghancurkan kami dan menjadikan kami tumbal suku Monrest.”
“Itulah sebabnya kalian harus pindah,” lanjut Lynx, menatap langsung ke arah Uban. “Bukan hanya untuk menyelamatkan diri kalian, tapi juga untuk menyatukan kekuatan melawan musuh yang lebih besar. Suku Monrest.”
Pernyataan itu membuat semua orang terdiam. Bisikan mulai terdengar di antara kerumunan, beberapa tampak bingung, sementara yang lain tampak khawatir.
Uban menatap Lynx dengan serius. “Monrest? Kau yakin kita harus melawan mereka? Mereka jauh lebih kuat daripada para perampok.”
“Aku yakin,” jawab Lynx tanpa ragu. “Monrest adalah ancaman terbesar di pulau ini. Mereka tidak hanya menculik dan memperbudak orang-orang, tapi mereka juga mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih buruk. Jika kita tidak bersatu sekarang, mereka akan menghancurkan kita satu per satu."
Lynx menatap wajah mereka yang hadir satu persatu. "Jangan lupa, para perampok itu ingin menyerahkan orang-orang yang di tangkap sebelumnya termasuk kalian kepada suku Monrest untuk ritual pengorbanan.”
Para penduduk yang mendengar kata-kata Lynx menjadi ramai dan merasa takut dengan kejadian yang hampir menimpa mereka.
Ayunga melirik Uban dengan ragu. “Tapi bagaimana kita bisa melawan mereka? Suku Yaksa tidak memiliki prajurit sebanyak itu. Kami adalah nelayan, bukan pejuang.”
Lynx menggeleng. “Kalian lebih dari sekadar nelayan. Kalian tahu sungai-sungai ini lebih baik daripada siapa pun. Kalian bisa bergerak dengan cepat dan tanpa terdeteksi. Jika kita bersatu, kita bisa mengimbangi kekuatan Monrest.”
Uban menarik napas dalam-dalam, tampak memikirkan kata-kata Lynx. “Dan siapa yang akan memimpin aliansi ini?”
“Suku Raksa, Uksa, dan Sinto sudah bersatu,” jelas Lynx. “Kepala suku mereka, Raka, sedang mempersiapkan pasukannya untuk menghadapi Monrest. Mereka sedang dalam perjalanan menuju barat pulau untuk bergabung dengan suku Sinto. Aku juga akan menjadi salah satu orang yang berjuang dan memastikan semua berjalan lancar. Tapi ini bukan tentang siapa yang memimpin. Ini tentang bertahan hidup.”
Uban memandang Lynx dengan penuh hormat. “Jika suku Raksa, Uksa, dan Sinto bisa bersatu, maka kami juga akan bergabung. Yaksa akan menjadi bagian dari perjuangan ini.”
Ayunga mengangguk setuju, meskipun wajahnya masih penuh kekhawatiran. “Tapi ke mana kita harus pergi? Kita tidak bisa tinggal di sini, tapi kita juga tidak tahu tempat yang aman.”
Lynx menoleh ke arah peta sederhana yang tergantung di dekat perahu. Ia menunjuk sebuah lokasi di barat pulau. “Di sinilah kita akan bertemu. Tempat ini adalah titik pertemuan semua suku. Di sana, kita akan membangun kekuatan bersama.”
Uban mengangguk, memutuskan. “Baiklah. Kami akan mempersiapkan diri dan mulai bergerak secepat mungkin.”
Setelah mengambil keputusan tersebut, seluruh suku Yaksa bubar dan bersiap-siap pindah. Ini bukan pertama kalinya mereka pindah, karena setiap terjadi ancaman dari Monrest, mereka segera mengungsi. Namun kali ini berbeda, mereka bukan hanya pindah untuk melarikan diri, tapi menuju ke sebuah harapan, kebebasan. Mereka akan bersatu dengan suku lainnya untuk membebaskan diri mereka yang selama ini di anggap seolah ternak oleh suku Monrest.
"Mereka membiarkan kita berlari dan bersembunyi. Mereka sengaja membiarkan kita selama ini hanya untuk memastikan masih ada orang-orang yang bisa mereka tangkap dan korbankan. Namun kali ini berbeda, kita akan bersatu dan berjuang untuk masa depan anak cucu kita! Suku Yaksa pasti menang!" Kata Kepala Suku Uban memberi semangat yang di sambut dengan antusias oleh seluruh warganya.
Kepala suku Uban, sebenarnya sudah sangat lama menginginkan persatuan dari seluruh suku untuk mengalahkan Monrest, namun belum ada yang berani untuk memulai. Kini, Uban sudah melihat secara langsung, keberanian, kekuatan dan kebijaksanaan Lynx ketika menolong mereka. Kepala suku Uban merasa gembira dan percaya, Lynx mampu membebaskan mereka semua dari kekejaman suku Monrest.
Ketika suku Yaksa  berkemas untuk berpindah, Lynx melanjutkan pembicaraan mereka bersama Ayunga, kepala suku Yaksa, dan beberapa tetua lainnya di sebuah bangunan. Sebelum mereka berkumpul di pinggir sungai, Kepala suku Uban beserta para tetua sebelumnya telah mendiskusikan pengkhianatan Gahara yang hampir menghancurkan suku mereka. Gahara, yang kini dirantai di sudut ruangan, hanya menunduk tanpa berbicara.
“Kami telah mengambil keputusan, Lynx,” ujar Ayunga dengan nada berat tapi tegas. “Gahara dan seluruh keluarganya akan dihukum mati. Ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan pengkhianatan seperti ini tidak akan terjadi lagi.”
Lynx, yang duduk dengan tubuh tegap, memandang Ayunga dengan mata yang penuh pengertian. “Aku mengerti keputusan kalian. Pengkhianatan seperti ini, jika dibiarkan, akan menghancurkan fondasi kepercayaan dalam suku kalian. Tapi pastikan hukuman itu hanya dijatuhkan pada mereka yang benar-benar terlibat.”
Ayunga mengangguk. “Kita tidak bisa mengambil resiko di masa depan dari pembalasan dendam keluarganya. Selain itu, kami sudah menyelidiki dan mendapatkan informasi, bahwa sebagian besar keluarganya tahu dan terlibat. Ini keputusan yang berat, tapi mereka telah menjadi ancaman bagi kita.”
“Baik,” kata Lynx sambil berdiri. “Jika keputusan itu sudah bulat, maka aku tak akan mencampuri urusan suku kalian. Tapi aku harus memperingatkan satu hal—kalian harus segera meninggalkan tempat ini. Para perampok sudah lokasi kalian. Mereka bisa datang kapanpun dan pastinya mereka akan menyerang dengan kekuatan penuh.”
Salah satu tetua yang duduk di sebelah Ayunga berbicara, suaranya penuh kekhawatiran. “Lynx, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepadamu. Sebelum ke tempat ini, kami sudah mengarahkan seluruh keluarga kami untuk bersiap dan segera pergi dari sini untuk bergabung dengan para suku lainnya.”
“Baguslah jika kalian sudah bersiap,” jawab Lynx. “Dengan pergi ke barat, ke perkampungan suku Sinto. Kita semua  akan menjadi sekutu yang kuat. Jika kalian bergabung dengan mereka, kalian akan punya lebih banyak kekuatan untuk melawan Monrest dan para perampok.”
Ayunga mengangguk pelan. “Kami akan segera berangkat. Terima kasih atas saranmu, Lynx.”
Lynx berdiri, pandangannya tajam. “Aku tidak bisa menemani kalian untuk berangkat ke barat, aku akan pergi duluan ke perkampungan Sinto. Ada seseorang yang penting bagiku di sana, dan aku merasa dia sedang dalam bahaya.”
Jelita, yang mendengarkan pembicaraan itu dari dekat, tiba-tiba melangkah maju. “Kalau begitu, biarkan aku ikut denganmu, Lynx.”
Lynx menoleh ke arahnya dengan ekspresi serius. “Tidak, Jelita. Kau harus tetap di sini bersama suku Yaksa. Aku harus bergerak cepat, dan itu berarti aku harus pergi sendirian.”
“Aku tidak akan membebanimu. Aku ingin bertemu dengan Nenek Drona secepatnya,” desak Jelita. “Dia satu-satunya yang bisa mengobatiku sepenuhnya terutama wajahku. Aku juga ingin bisa membantu suku Sinto lebih cepat.”
Mendengar kata-kata Jelita, Ayunga merasa ada yang aneh. Sebagai ayahnya, dia sangat memahami anaknya. Ayunga memandangi wajah anaknya dan melihat tatapan anaknya saat melihat Lynx. "Anakku sudah dewasa." Batinnya.
